Posted by : Muhammad Jimmy Ramadhan Rabu, 07 Desember 2011
Tag :

Author : Hanna Tazkiya
Genre : Romance, Tragedy, School Life.

PhotobucketAku menyipitkan mataku. Demi Tuhan! Kenapa aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari gadis itu? Menyedihkan sekali…


Aku menggeleng pelan dan mencoba mengalihkan pandanganku pada novel yang tengah kutekuni. Menelusuri huruf demi huruf. Untuk mengalihkan pikiranku dari gadis berambut hitam gelap panjang lurus dan keriting gantung menyentuh pipi mulusnya yang tanpa noda sama sekali itu dengan pelan sambil terbawa angin. Mata biru besarnya terang dengan tawa indahnya yang keluar dari bibir mungilnya.


Baiklah. Hebat. Aku tidak bisa mengalihkan perhatianku. Novel ini tidak berhasil mengalihkan perhatianku.

Aku mengacak rambutku. Apa yang terjadi padaku ? Seorang aku yang merupakan primadona gadis-gadis di sekolah ini mendadak tertarik pada satu perempuan yang… biasa saja. Tidak terlalu populer. Tapi dia cantik. Cantik sekali dimataku…


“Kau memandanginya lagi,” tiba-tiba suara menyebalkan yang kukenal menusuk-nusuk kupingku. Aku memandangnya dengan kesal. Disana berdiri, sosok pria jangkung berdarah Amerika-Jepang bertubuh agak kekar dan memakai kaos putih dengan bawahan jins hitam dan rambut acak-acakan sambil memakan kripik kentangnya menatapku dengan tatapan aneh. Dia memang aneh.

“Apa sih maumu? Menggangguku saja… Fred”, kataku setengah bercanda pada sahabat karibku ini. Fred Alvin memandangku dengan tidak percaya lalu memutar matanya.

“Menggelikan,” komentarnya yang spontan membuatku berbalik kearahnya. Ia kembali memakan kripiknya dengan super acuh. Lalu memandangiku.

“Apa? Mau protes? Oh ayolah, brad. Kau tau persis kau… Menggelikan.” Katanya mengambil kaca lalu dicondongkan kepadaku sambil menelan kripiknya. Aku menyipitkan mata lalu mendengus tertawa.

“Yang benar saja”

“Kau suka padanya. Kau suka pada seorang perempuan bernama Mishi Nakagama. Pindahan dari Kyoto dan kau memikirkan kalau kau dan dia. Bersama-sama. Di Apartemenmu—“

“Hentikan.”, kataku muak. Menyebalkan! Kenapa sih dia ini selalu saja membuatku kesal setengah mati. Apa-apaan kalau ada yang mendengar ucapannya yang bodoh itu? Dan hei! Aku tidak memikirkan—

Mendadak wajahku terasa panas lalu mengalihkan wajahku. Fred Alvin. Kubunuh kau.

“Maaf, brad. Ya. Aku tau kau nggak semesum itu kalau aku yang gantian memikirkannya. Maksudku, ya Tuhan! Lihatlah dia..! Woow… tubuhnya bahkan lebih menggoda dari Paris Hilton!”, pekik Fred semakin menjengkelkan. Aku menyipitkan mata kearahnya. Dasar hidung belang cap Amerika Latin!

“Daripada kau memikirkan Paris Hilton, lebih baik kau menyingkir dari pandanganku. Aku mual memandangmu. Sana. Urus saja si Maria Himeno. Aku yakin dia—“

“Astaga! Maria! Benar! Aku sudah membuatnya menunggu di Café Latte selama 2 jam! Aku lupa, braaad! Sialan! Ah baiklah kalau begitu, buh bye!”, katanya sambil bergaya sok imut dan ngacir ke Café Latte yang memang ada di kantin sekolah kami.

Aku menggeleng pelan. Dasar pelupa. Bisa-bisanya dia membiarkan ceweknya menunggu selama itu padahal dia sendiri yang buat janji. Makanya aku heran. Kok bisa mereka pacaran selama 2 tahun ? Maria bisa bertahan dengan cowok kampung dan pelupa begitu? Hahaha… yang benar saja. Oke. Fred Alvin memang tampan… untuk ukuran seorang Fred. Kalau kau pintar, kau pasti mengerti maksudku…

Aku kembali memandangi gadis itu. Mishi Nakagama yang masih tertawa bersama teman-temannya. Memandang senyumnya itu membuatku tersenyum juga.

Mishi Nakagama. Kapan aku bisa bicara denganmu? Sebentar saja… sebentar saja…


***


Aku benci Valentine.

Aku memandangi lokerku yang sudah sangat penuh dengan coklat, surat dan berbagai macam bunga didalamnya. Apa-apaan? Cewek-cewek tolol ini begitu menjengkelkan. Aku. Nggak suka. Coklat. Kesimpulan : aku nggak suka manis. Menjijikan…

“ITU!! IRUMO-SENPAAAAI!!!!”


Aku memandang ke belakang. Segerombolan anak cewek kelas 1 dan kakak kelas 3 nampak memandangku seperti ingin menerkamku saja. Oke, saatnya kabur. Dalam hitungan 3… satu… dua…

KELAMAAN!!

Aku lari secepat kilat kekamar mandi cowok dimana aku bisa aman. Tentu saja! Mereka benar-benar gila kalau mereka mau mengejarku sampai kekamar mandi cowok! Oh yang benar saja!

“Kyaaa!!! Jangan lari, doong~ aku mau kau menerima coklatku secara langsung~! Irumo-senpai!!!”

“Hei ! Kalian anak kelas 1 minggir dong! Biarkan kami lewat! Irumo-chaan!!!! Jangan kabuur~! Kembali!!!”

Yep. Begitulah. Aku nggak peduli. Nyawaku diambang kehancuran! Dan sepertinya Dewi Fortuna sedang berbaik hati padaku dan pintu WC cowok terbuka lebar sebelum…

“Sial…”

Salah seorang Office Boy menutupnya dengan alasan WC-nya mau dibersihkan. Oke, aku tarik kata-kataku. Dewi Fortuna sedang mengutukku hari ini. Oh, Well khususnya… Pagi ini.

***

“Pfft…”

“Jangan ketawa. Kubunuh kau.”, ancamku jengkel sambil membersihkan bajuku dari berbagai tetesan coklat yang menempel. Fred Alvin memandangku dengan mata elangnya. Lalu nyengir. Cengiran itu ingin membuatku menonjoknya saja. Oke. Tadi aku dikroyok oleh coklat… dan si berengsek yang mengaku sebagai sahabat karibku ini malah tertawa diatas penderitaanku.

“Hahahahahahaa!! Ya Tuhan! Aku nggak tahan lagi!”, tawa Fred meledak. Aku meliriknya sinis. Nah, kan? lihat ? betapa menjengkelkannya dia. Dan oh pastinya menyedihkan.

“Hahahahaha… hey hey ayolah jangan melirikku begitu. Nikmati saja, brad . Anggap saja itu hadiah lain dari Tuhan. Kau dan wajah tampanmu.”, kata Fred. Aku diam saja.

“Kalau aku jadi cewek, aku juga pasti suka padamu, loh!”, kata Fred. Aku melotot kali ini dan menjaga jarak darinya beberapa senti. Dia gila. Benar-benar sinting. Dan itu membuatnya tertawa lebih keras lagi. cih. Menjengkelkan!!

“Kenapa sih kau nggak mati aja?”, desisku sadis.

“Aku belum mau mati, brad . Aku dan Maria belum nikah dan belum punya anak banyak. Aku mau punya 11 anak hmm atau 15? Mana menurutmu yang lebih baik? Aku mau memberi nama mereka Filly, June ya kalau dia lahir dibulan Juni, lalu Michael, lalu-- ”, oceh dan tanyanya polos. Aku melotot sekali lagi. demi Tuhan! Orang ini sinting!

“Dalam kondisi Jepang yang kebanyakan penduduk begini, kau masih memikirkan punya anak banyak? Hah. Kau pikir kau bisa menghidupi mereka dengan baik? Jangan bercanda.”, kataku meledek. Dia memegang dadanya sendiri pura-pura sakit hati.

“Hei, hei! Enak saja ngomongmu! Walau punya anak banyak, aku tetap bisa membiayai mereka tau! Dan… HEI! Aku akan jadi ayah yang baik!! Ingat itu dikepalamu, Irumo Saito.”, protesnya. Aku terdiam tidak merespon. Benar juga. Fred Alvin. Keluarga pengusaha super kaya yang menetap di Jepang. Dan bahasa Jepangnya enggak jelek-jelek amat, kok…

“Umm…”, tiba-tiba suara manis seorang cewek terdengar ditelingaku. Mataku membulat sempurna dibalik kacamataku mendapati siapa yang datang. Begitupun Fred yang lalu menyenggol-nyeggol tanganku dengan pelan.

Mishi Nakagama. Disana. Berdiri. Memandangku. Dan. Dia. Membawa…

SEBUAH KOTAK SILVER YANG MANIS.

“O-oh… Mishi, ya…? Ada apa?”, tanyaku berusaha terlihat senormal mungkin dihadapannya. Wajah manisnya nampak sedikit memerah dipipi.

“Kamu tau… namaku?”, tanyanya lamat-lamat. Aku mengangguk.

“Tentu saja.”, kataku.

“Dia kan selalu memperhatikanmu,” tambah Fred. Aku menyenggol bahunya dengan keras. Dasar ember bocor ! Ia meringis lalu nyengir kembali. Aku benar-benar akan membunuhnya. Lihat saja… lihat saja!

“Lupakan kata-kata si bodoh ini. Hahaha…”, kataku berusaha menyembunyikan rasa maluku gara-gara Fred. Mishi tertawa kecil yang membuatnya semakin manis saja.

“Aaa… ini. Kalau… Irumo mau… Ak-aku, membuat coklat yang err—sebenarnya kubuat sendiri, sih… Jadi m-ma-maaf ya kalau nggak enak…”, katanya sambil menggaruk belakang kepalanya lalu menyodorkan kotak silver itu padaku dengan wajahnya yang masih malu-malu. Aku tidak bisa menyembunyikan semburat merah dipipiku sekarang. Fred sudah cengok daritadi memandang keberanian Mishi. Aku tahu, aku tahu. Aku juga mau cengok begitu, Fred!

“Ah… itu sih…”, aku mengambil coklat pemberiannya dan memandangnya dengan lembut.

“Makasih, ya…”, kataku. Dia mengangguk gugup lalu mengedipkan matanya yang indah.

“Aku… tadi… nggak mau desak-desakan… jadi aku nunggu Irumo sendiri dulu…”, katanya sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya.

“Aku mengerti.”, kataku. Dia mengangguk lalu berjalan mendahuluiku dan Fred.

“Wah… brad! *Non praedictio!! (nggak disangka-sangka!)”, Fred memekik tak percaya. Aku diam saja. Masih terpesona.

“Perkembangan yang baik, ya!”, kata Fred bertepuk tangan. Aku menelan ludahku sendiri lalu tersenyum tulus.

Yah. Mungkin Valentine nggak jelek-jelek amat kok…

“Badannya lebih bagus dari Madonna ternyata!”, pekik Fred lagi. deg. Aku baru ingat. Aku menatap Fred dengan beringas.

“Kubunuh kau…”

dengan begitu, Fred kabur.

***

Aku menggosokkan tanganku sambil meniup-niup tanganku yang dingin. Aku nggak percaya ini. Dihari Valentine. Ternyata pukul 5 sore hujan! Menyebalkan sekali.

Dingin.

Aku berteduh dibawah atap halte bus yang kosong. Sambil menunggu hujan berhenti. Aku menatap kotak silver yang diberikan Mishi. Aku tersenyum. Lalu membukanya. Disana ada coklat berbentuk kotak-kotak kecil. Aku mengambilnya satu dan memakannya. Oke. Mungkin aku sekarang nggak begitu membenci coklat, kok.

Imajinasiku melayang. Kira-kira… maksud coklat ini apa, ya ? Kenapa tiba-tiba saja—

“Enak, nggak coklat buatanku?”, tiba-tiba suara itu muncul lagi. aku mengerjapkan mataku mencoba sadar. Berdiri disana. Seorang Mishi Nakagama.

“Mishi…”

“Hei. Enak nggak? Malah memanggilku…”, kikiknya geli.

“Enak, kok. Bahkan sebaiknya kupikir kau membuka toko coklat. Aku yakin laku…”, candaku. Dia tertawa sambil menepuk bahuku.

“Irumo-san bisa saja…”, katanya. Oh Tuhan. Sungguh gadis yang sopan…

“Irumo saja cukup…”, ralatku. Dia berdeham lalu tersenyum. “Ya,”

“Ngomong-ngomong, kau belum pulang? Bukannya setahuku Ji Yu Min-sensei nggak masuk tadi?”, tanyaku. Dia mengangkat bahu.

“Aku nggak mau cepat-cepat pulang kerumah…” katanya. Aku memandangnya.

“Aku tau ini nggak sopan nanya… tapi… kenapa?”, tanyaku.

“Aku nggak mau minum obat,” sergahnya sambil duduk disampingku. Ia memandangku dengan mata birunya. Mata coklatku balik memandangnya.

“Obat? Kamu sakit?”, tanyaku. Dia menundukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Iya. Flu.”, katanya. Aku membulatkan bibirku. Flu? Dia nggak nampak seperti orang flu.

“Ooh… ya memang harus minum obat agar kau sembuh, kan? hanya flu, sih paling seminggu juga beres…”, kataku terdengar seperti penasihat ayahku. Dia memandang langit yang mulai gelap sambil tersenyum.

“Iya… Irumo benar.”, katanya. Aku menatapnya. Aku punya firasat gadis ini bohong.

“Tapi, kau nggak kelihatan seperti orang flu?”, akhirnya aku melontarkan penasaranku. Dia agak kaget dengan pertanyaanku.

“Umm… yah. Udah hampir sembuh sih…”, katanya. Aku mengangguk.

“Besok… mau berangkat bersama, tidak?”, tanyaku pelan-pelan. Aku punya firasat dia ini berbeda dengan gadis-gadis tolol dan aneh yang suka mengejar-ngejar aku di Sekolah. Aku merasa aku harus ekstra hati-hati bicara dengannya.

Dia memandangku nggak percaya. Semburat merah dipipinya nampak. Demi Tuhan… aku mau memeluknya…

“A—boleh… memang rumahmu dimana?”, tanyanya. Aku membuka mulutku tapi menutupnya lagi. aku nggak mungkin bilang kalau aku pernah mengikutinya sekali karena aku penasaran dimana rumahnya yang ternyata searah denganku. Aku nggak mau dicap penguntit ‘kilat’ oleh gadis yang kusuka.

“… aku pernah nggak sengaja lihat kau lewat jalan yang sama denganku,” kataku akhirnya. Dia ber-‘ooh’ dia. Aku lega. Punya otak keren…

“Dengan senang hati,” jawabnya sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya.

Oh Tuhan, dekatkanlah aku padanya…
 -TO BE CONTINUE-

Part 2, Part 3[End]


{ 2 komentar... read them below or Comment }

  1. Www.Mantep.Boss/tapi-terlalu-panjang-mo-dibaca.php

    BalasHapus
  2. Cerita fanfic aya gini kan bebas dan sesuai kreatuvitas author :)
    datang lagi ya... ^_^

    BalasHapus

Sharing Is Caring.. Mohon Masukan, Kritik, dan Sarannya...

- Copyright © 2012 Sagasano -Shinpuru v2.3- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -